Kamis, 29 September 2011

Revitalisasi Karakter Bangsa Sekarang!

Kelakuan remaja Indonesia saat ini: tawuran, lihat film porno,
internetan, dan Pacaran
(Karikatur: Ashief Mutammi
Pada pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, terdapat cita-cita Indonesia serta dasar negara Indonesia yaitu Pancasila. Selama ini, apakah cita-cita bangsa Indonesia terealisasi semua? Apakah nilai-nilai penting di balik Pancasila masih dipertahankan, terutama bagi pembentukan karakter generasi penerus bangsa sekarang?

Indonesia sebenarnya memiliki modal untuk menjadi bangsa yang maju. Pemerintah, rakyat, sumber daya alam dan sebagainya. Tapi modal yang sudah ada ini, tidak bisa dimanfaatkan Indonesia secara tepat.

Kita lihat saja. Indonesia sekarang masih belum berhasil meraih cita-citanya seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Malahan kita semakin menjauh dari cita-cita tersebut.

Mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada pasal 31 ayat 1 UUD 1945, setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan direalisasikan dengan mencanangkan program wajib belajar 12 tahun.

Kita lihat, makin lama biaya pendidikan makin mahal. Tidak ada bedanya menempuh pendidikan di sekolah negeri maupun swasta. Anak-anak yang orang tuanya tidak mempunyai biaya, terpaksa putus sekolah.

Padahal Pemerintah menganggarkan sebanyak 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pendidikan. Salah satunya Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dicanangkan untuk meringankan beban siswa terkait biaya pendidikan. Tapi belakangan siswa masih ditagih uang gedung dan uang seragam. Kenyataan lain, jumlah masyarakat yang buta huruf di lapangan tidak sama dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Sekarang kita lihat dari sisi Pancasila sendiri. Remaja sekarang kehilangan pegangan. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dipinggirkan. Banyak remaja yang lupa sila-sila pancasila. Kalaupun hafal, mereka belum tentu mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak perlu diperdebatkan lagi. Karena hampir tidak ada permasalahan tentang hal ini.

Sila kedua dan kelima hampir sama maknanya, Kemanusiaan yang adil dan beradab dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Apakah Indonesia sekarang sudah adil? George Towar Iqbal, Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Brawijaya (UB) ini menjawab tidak.

Pembangunan tidak merata. Pemerintah cenderung melakukan pembangunan di pusat kota. Sedangkan di desa-desa, mereka tidak begitu peduli.

Sedangkan Amir Hasan Ramli, Ketua Program Studi Psikologi UB ini mengatakan beradab dalam sila kedua tidak bisa dimaknai secara baik. Antar desa saja berkelahi, antar suporter berkelahi. “Yang diperebutkan itu apa sih?” tanyanya seraya mengetuk-ngetuk meja kerjanya.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Menurut Sri Mukti Rahayu, Kasubbag Peningkatan Kepemudaan, Olahraga, dan Organisasi Masyarakat (Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Jember) rasa persatuan semakin berkurang. Dibuktikan dengan memudarnya gotong royong antar masyarakat.

Semangat gotong royong yang memudar, karena trend masyarakat sekarang yang demokrasi. Ajaran demokrasi lebih mementingkan individu sendiri. Kemudian di daerah-daerah masih banyak oknum-oknum yang ingin menghancurkan daerah lain. Mereka memandang daerah lain lebih rendah dari daerahnya.

Sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Sila ini tidak berlaku. Karena di DPR sekarang masih mempertahankan sistem voting dalam pengambilan keputusan, bukan secara musyawarah.

Permasalahan-permasalahan tersebut akan berdampak pada bangsa Indonesia sendiri. Lambat laun budaya-budaya di Indonesia akan hilang. Contohnya gotong royong dan musyawarah.

Kalau sistemnya masih musyawarah, masyarakat yang memiliki suara kecil masih bisa berperan penting. Tapi kalau voting, suara terbanyak yang akan menang.

Dalam masalah politik, jika remaja sekarang disuguhi logika-logika politik dari barat, maka saat terjun ke masyarakat, mereka cenderung memakai logika tersebut dan meninggalkan logika politik yang dibangun dari bangsa sendiri.

Karakter Bangsa khususnya Remaja Saat Ini
Perlu diketahui, karakter bangsa Indonesia mulai memudar sejak transisi masa Orde Baru ke Reformasi. Latihan baris-berbaris untuk menanamkan kedisiplinan jarang diajarkan ke siswa-siswa.

Selain itu, tiap hari Senin, ada upacara dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera merah putih. Siswa jarang mengikuti secara khidmat proses tersebut. Padahal maksud melakukan hal seperti itu untuk membentuk karakter pribadi masing-masing.
               
Menurut George, karakter bangsa Indonesia khususnya remaja sekarang tidak ada yang bisa dibanggakan. Dari budaya saja, remaja Indonesia tidak bisa mempertahankan budayanya, malah terkena pengaruh budaya asing. Banyak yang mabuk-mabukan dan trek-trek’an. Hal seperti itu tidak sesuai dengan nilai moral dan agama.

Dari segi moral, masih banyak seks bebas di kalangan remaja. Remaja di Indonesia terlalu menelan mentah-mentah budaya asing. Mereka melakukan seks bebas dengan pasangannya masing-masing tanpa ikatan pernikahan, meskipun tidak gonta-ganti pasangan seperti budaya asing lainnya.

Pihak yang ‘berdosa’ atas masalah tersebut yaitu media. Karena media sering menampilkan budaya-budaya hedon dari bangsa lain.
               
Menurut Sri Mukti, rasa nasionalis dan gotong royong remaja sekarang makin berkurang. Kalau dahulu itu rasa kebersamaannya kuat sekali. “Karena rasa itu berkurang, akhirnya mereka berpikir secara individu” wanita asli Blitar, Jawa Timur ini.

Sudah saatnya bangsa Indonesia melakukan revitalisasi karakter bangsa khususnya remaja yang sudah ‘bobrok’ ini.

Revitalisasi karakter bangsa sebenarnya sudah lakukan sejak Indonesia berdiri. Tapi sampai sekarang kita belum punya karakter yang tepat. Padahal di negara-negara lain, pembangunan karakter sudah selesai.

Hal yang harus dilakukan pertama, dari lingkup terkecil yaitu keluarga. Setelah itu baru melebar ke masyarakat. Anak itu belajar dari meniru. Kalau keluarga bisa mengajarkan anak-anaknya berbagai hal yang baik, maka anak juga akan meniru kebiasaan baik orang tuanya. Begitu juga sebaliknya.

Selanjutnya pendidikan agama, seperti pembentukan iman seseorang. Menanamkan disiplin. dan pembentukan mental.

Menumbuhkan rasa nasionalisme. Contohnya gotong royong harus ditingkatkan lagi. Tapi sekarang sulit untuk mengembalikan semangat gotong royong. Karena sekarang trend-nya demokrasi. Kecuali kalau pemimpin negaranya tegas untuk menghimbau masyarakatnya. Peran negara itu penting dalam pembentukan karakter bangsa. Contohnya seperti kepemimpinan. (Welga Febdi Risantino)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar