Kamis, 13 Oktober 2011

SPLAKBLAKMUTAKARAK...!!!!


Komunitas band indie kota Malang, Jawa Timur kembali melakukan pergerakan. Kali ini melalui album kompilasi 'Splak Blak Mutakarak' (SPMK). Kalian pasti bertanya-tanya, nama macam apa itu? 

Ateng (Pickwolf) dan Firman, keduanya merupakan provokator dibalik semua ini dan mulai bercerita mengenai asal mula nama album hingga rencana rilis party dan membuat label.
"Ide nama awalnya dari celetukan temen. Sulit diucapin, orang jadi penasaran cari-cari artinya apa sih?" Tutur Firman. 


"Kalau ide pembuatan album, ini proyek kedua dari tur 4 band kemarin, ada : Pickwolf, Gang Holiday, Lolyta dan Give Me a Chance. Kita tur ke Bali, Surabaya dan Gresik. Nah, dari sisa uang tur itu kita bikin kompilasi album ini, dan terpilihlah 11 band berbeda genre dan 13 artworker untuk mengisi." Lanjutnya. 

Ateng juga menambahkan, kalau SPMK adalah realisasi untuk menyatukan komunitas di Malang. "Konsep awalnya ingin menyatukan beberapa komunitas di Malang. Kita udah bosen dengan permasalahan kayak, kenapa Malang dikotak-kotakkan sama genre, antar komunitas susah akurnya. Ini bukti, realisas, dan usaha meneruskan dari orang-orang sebelumnya yang cuma bisa ngomong aja. Kita berusaha dengan cara kita sendiri, dan ini awalnya."  

Firman dan Ateng juga tidak repot memilih band dengan audisi, "yang penting punya materi berkualitas, dan berkapasitas. Untungnya, dari ke-11 band ini semangat semua." Keduanya juga mengakui cukup kaget dengan materi yang diberikan dari ke-11 band yang bergabung. "Nggak nyangka, materi mereka bagus-bagus!"
Karena itulah Firman dan Ateng optimis CD kompilasi SPMK akan sukses, terutama di kalangan pecinta band indie sendiri. Hal inipun terbukti dengan lakunya 200 copy album melalui sistem pre-order dalam kurun waktu 3 hari! Singkat bukan? Sama seperti pengerjaan album yang cuma memakan waktu sebulan. "Album dibuat dalam waktu supersingkat! Sebulan, itu udah materi, recording, mixing sama artwork.. Mudah-mudahan minggu ini udah bisa rilis." Setelah album selesai dan bisa dinikmati, rilis party-pun sudah siap diadakan. 

Selain itu, kalau berjalan lancar Ateng dan Firman berniat menjadikan SPMK sebagai label yang nantinya bisa membantu teman-teman band indie Malang. "Rencananya mau jadi label, kalo kita bisa mandiri kenapa harus ke ibu kota? Pingin menikmati band kita, nggak bergantung sama ibu kota. Lagipula nggak jaminan kalo udah dapet label bisa sukses."  

Terakhir, Ceritamu mendapatkan jawaban menari dari pertanyaan 'label yang menentukan pasar musik atau pasar yang menentukan musik?' : "Musik yang menentukan lebel dan musik yang menentukan pasar. Tanggung jawab sama pasar, jangan terus-terusan nyalahin pasar. Misal, pasar lagi suka musik Korea, bukan salah pasar! Kita yang harusnya mengedukasi pasar!" (Bagus Prasetya Wardhani)

Tracklist album kompilasi #splakblakmutakarak

1. give me a chance - pride of the city
2. son of sundance - batas
3. take this life - I'm the owl, I roam the night alone
4. pickwolf - balada rimba fana
5. sharkbite - s.t.m.l.b
6. anniverscary - dirty identity
7. kobra - malam
8. gang holiday - moskow
9. brigade 07 - lupakan
10. lolyta and the disgusting trouble - hard machine
11. youngster city rockers - step back
12. son of sundance - lingkaran
13. sharkbite - set us free
14. pickwolf - delusional kehidupan
15. gang holiday - better day
16. give me a chance - stage dive
17. lolyta and the disgusting trouble - magic of rock
18. anniverscary - stuck in the middle east
19. youngster city rockers - pouring threat
20. kobra - phb
21. take this life - when the dolphin pray for forgiveness
22. brigade 07 - masa muda

"BIAS" in SOCIETO Big Launching

Poster "BIAS"
BIAS, adalah sebuah judul film pendek bergenre action garapan mahasiswa-mahasiswa komunikasi naungan LSO "SOCIETO" yang telah di launching dalam "BIG LAUNCHING SOCIETO" pada minggu lalu, sabtu 8 oktober 2011, Incubator Bisnis Brawijaya, Malang, Jawa Timur. 

Dalam acara tersebut terdapat 3 film berdurasi 30 menitan, yaitu "SURAT DARI SAHABAT",bergenre Drama Triller garapan Briefing Production yang disutradarai oleh Gusti, "HIDUP ITU...",bergenre Comedy garapan SB Production yang disutradarai oleh Rendra (Black), dan yang terakhir adalah "BIAS" garapan RILEKS Production yang disutradarai oleh Hasan Muthahhar (Nyamuk).

Film BIAS sendriri menceritakan tentang kisah hidup kakak beradik yang hidup mandiri karena kedua orang tuanya telah tiada. Sang kakak, Norman, bekerja serabutan sebagai tukang parkir, sedangkan Adi, sang adik, turut bekerja sebagai pengamen jalanan. 

Mereka hidup tak berkecukupan. Sampai suatu hari, Norman, sang kakak harus terjerumus kedunia hitam demi membahagiakan Adi, adiknya. Namun hal itu tak berlangsung lama, karena Norman dibanyangi rasa bersalah dan takut akan pekerjaan barunya.

Simak ceritanya langsung dalam film "BIAS", serta cerita seru tentang pembuatan film "BIAS" di http://dimarprada.blogspot.com/ . Untuk film "BIAS" sendiri dapat diakses melalui link blog tersebut. (Adimartha Pradana)

Ayo Berpetualang

AYO BERPETUALANG

Seorang pelancong yang melakukan perjalanan wisata sendirian terkadang bisa merasa kesepian. Untuk itu, ia pun perlu bertemu dengan orang daerah setempat agar perjalanannya tidak terasa membosankan Pertemuan dengan orang lain dapat dilakukan dengan melakukan percakapan, bertukar pendapat tentang pengalaman perjalanan Anda, hingga mencari saran atau sekadar mengobrol. Baik Anda seorang yang agak tertutup dan pendiam maupun seorang yang terbuka dan senang berbicara, Anda tentu harus bertemu dengan orang-orang baru di daerah setempat. Namun, orang yang pendiam sebenarnya hanya kurang dalam menggali lebih dalam pribadi orang yang ia ajak bicara.

Cara termudah untuk melakukan sebuah percakapan dengan orang asing adalah dengan mengajukan pertanyaan. Anda dapat menanyakan arah, rekomendasi tempat makan, sampai tempat yang menarik untuk dikunjungi. Anda juga dapat melakukan percakapan dengan karyawan ataupun tamu di tempat Anda menginap, restoran, sampai orang-orang yang lalu lalang di jalan. Dalam perjalanan yang Anda tempuh, pastinya banyak tempat yang biasa dikunjungi oleh wisatawan. Di situlah Anda dapat bertemu dengan wisatawan-wisatawan lain yang akan mengurangi rasa sepi Anda dalam melakukan perjalanan wisata sendirian. Apalagi jika Anda mampir ke tempat yang banyak terdapat backpacker. Hanya saja, tetaplah berhati-hati.

Meskipun Anda menjumpai orang lain yang memiliki kebangsaan atau daerah yang sama dengan Anda, bukan berarti secara otomatis Anda memercayai mereka. Tetaplah waspada terhadap orang asing. Pertimbangkan dengan baik di mana Anda akan menginap. Hotel yang besar cenderung lebih impersonal dibandingkan penginapan kecil yang lebih ramah. Selain itu, penginapan kecil menawarkan lebih banyak kesempatan untuk mengobrol dengan karyawan atau tamu-tamu lain sehingga Anda mungkin akan lebih mudah menemukan sesama pelancong yang sendirian dan berinteraksi dengan mereka untuk sekadar mengobrol ataupun makan bersama. Perjalanan wisata sendirian lebih baik dilakukan dalam jangka pendek. Saran terbaik selama melakukan perjalanan wisata sendirian adalah mempelajari keterampilan baru serta bertemu dengan orang-orang. Misalnya memasak, mempelajari budaya setempat, seperti tari-tarian ataupun kerajinan tangan, maupun belajar menyelam.

Jika Anda tidak menyukai makan sendirian, Anda dapat makan sambil membaca buku. Hal tersebut setidaknya akan memberikan perasaan nyaman karena ditemani buku sebagai hiburan Anda. Meletakkan buku Anda yang tertutup di atas meja Anda mungkin akan membuat wisatawan lain tertarik untuk bergabung dengan Anda. Sebaliknya, bila Anda menemukan wisatawan lain melakukan hal yang sama, Anda dapat bertanya apakah Anda dapat bergabung. Terakhir, jurus ampuh yang dapat Anda lakukan bila bertemu dengan orang baru adalah tersenyum. Tersenyum diakui secara internasional dan orang yang tersenyum akan lebih mudah bertemu dengan orang-orang baru dibandingkan orang yang melipat wajahnya.(Vendy Angga Permana)

Minggu, 09 Oktober 2011

BFF, Luarrrr Biasa!

Minggu, 09 Oktober 2011 03:11
BATU – Luar biasa kegiatan Batu Flowers Festival (BFF) yang berlangsung di Kota Batu, Sabtu (8/10) kemarin. Semua peserta menunjukkan kreasi terindah begitu juga sambutan warga dalam Stadion Brantas dan jalan-jalan protokol Kota Batu.

Teriakan warga Batu yang memadati Stadion Brantas langsung pecah ketika peserta pawai nomor satu berjalan sentle ban. Peserta nomor pertama tersebut adalah Desa Sidomulyo Kecamatan Batu yang menampilkan mobil hias dengan Istana Bunga.

Kendaraan hias tersebut penuh dengan bunga, aneka jenis. Sedangkan seorang ‘bidadari’ mengenakan pakaian warna putih duduk di atas kendaraan sehingga melengkapi keindahan. Hal itu sesuai dengan potensi Desa Sidmulyo sebagai pusat bunga di Kota Batu.

Sedangkan Desa Tlekung menampilkan kendaraan hias dengan menonjolkan produk jeruk keprok 55. Warga Tlekung malahan membawa sampel jeruk dan dibagi-bagikan kepada pengunjung serta tamu-tamu undangan dalam stadion.

Selain kedua kendaraan hias ini, deretan kendaraan hias dengan tema potensi agrobis hingga wisata sapi perah ikut ditampilkan dalam kegiatan BFF ketiga ini. Sambutan warga dalam stadion hingga jalan-jalan utama Kota Batu sangat meriah.

Menteri Pendayagunaan dan Aparatur Negara, EE Mangindaan juga memberikan apresiasi luar biasa terhadap kegiatan Batu Flowers Festival yang dipadukan dengan Kawanua Bakudapa Sedunia itu. ‘’Mereka sangat luar biasa memberikan kreasi untuk Batu Flowers Festival. Lihat saja semua potensi dikeluarkan masyarakat, mulai bunga, buah hingga kesenian. Kegiatan ini sangat bagus karena tumbuh dari masyarakat dan Pemerintah hanya memfasilitasi saja,’’ tegas EE Mangindaan usai menyaksikan kegiatan BFF.

Kegiatan tersebut diharapkan bisa menjadi even tahunan sehingga meningkatkan potensi di wisata di Kota Batu. Dia mengakui, perkembangan Kota Batu sebagai sentra wisata sangat bagus karena masuk empat kota di Indonesia dengan tingkat kunjungan wisata terbesar di Indonesia.

‘’Pariwisata itu ikut meningkatkan perekonomian di Kota Batu. Peningkatan ekonomi Kota Batu saat ini masuk dalam empat besar secara nasional,’’ tegasnya.

Sabtu, 08 Oktober 2011

Kopi Pahit Berdiskusi

 Kopi Pahit Berdiskusi

MALANG – Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik membentuk komunitas bernama Forum Diskusi Kopi Pahit (FDKP). Kegiatan ini merupakan wadah pertukaran ilmu, ide, dan pendapat mengenai fenomena sosial disekitar mereka.

Awalnya, beberapa mahasiswa jurusan ilmu politik 2010 membentuk FDKP untuk meningkatkan kersamaan para mahasiswa jurusan ilmu politik 2010 dengan kegiatan yang dapat merangsang kepekaan sosial mereka. Hingga berjalan 8 bulan anggotanya tidak terbatas mahasiswa ilmu politik 2010, tetapi juga terbuka untuk seluruh jurusan di FISIP.

Forum diskusi dilakukan setiap hari Rabu, pukul 3 sore, di atas gedung kantin FISIP. “Topik diskusi biasanya membahas masalah perkuliahan, isu-isu sosial dan analisis wacana.” tutur anggota FDKP, Rendra, Rabu (5/10). Tiga hari sebelum diskusi para anggota menentukan bersama permasalahan apa yang akan dijadikan bahan diskusi.

Tidak ada syarat khusus untuk menjadi anggota FDKP, hanya dibutuhkan kesadaran diri untuk mengembangkan pitensi diri. “Siapa pun yang berminat, bisa langsung hadir ketika forum diskusi berlangsung.” tambahnya.

Selain diskusi bersama setiap minggunya, FDKP juga mempunyai akun FDKP FISIP di situs jejaring sosial (Facebook). Akun ini membantu anggotanya untuk bertukar informasi diluar diskusi mingguan. Menurut mahasiswi jurusan ilmu politik 2010, Devina, yang ditemui secara terpisah, “kegiatan ini sangat menyenangkan, karena dapat menambah wawasan kita.” katanya.

Kamis, 06 Oktober 2011

Pak Dhe Disambut Puluhan Mahasiswa

Menyimak : Korlap aksi EM, Win Ariga
menyimak pernyataan dari Pak Dhe Karwo
Photo by : Abdud DImats A.




Pak Dhe Disambut Puluhan Mahasiswa
           

Malang (07/10/2011), Bundaran kampus Universitas Brawijaya kembali diramaikan oleh puluhan mahasiswa yang melakukan aksi orasi. Para mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya (EM UB) Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya ini melakukan orasi menyambut kedatangan Gubernur Jawa Timur, Sukarwo dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa. Aksi ini dipimpin Win Ariga, mahasiswa FPIK selaku korlap.

Menurut Win, aksi kali ini terkesan mendadak. Karena EM baru mendapat surat undangan semiloka (seminar loka karya) pada hari rabu sore, lalu pada malam harinya langsung mengadakan rapat koordinasi. Kemudian keesokan harinya, yakni hari kamis (06/10/2011) langsung melakukan aksi. Aksi ini digelar sebagai gertakan sekaligus peringatan kepada presiden SBY mengenai sembilan tuntutan mahasiswa yang akan jatuh tempo pada tanggal 20 Oktober mendatang.

            Ke-sembilan tuntutan itu secara garis besar terkait dengan isu-isu umum yang berkembang di masyarakat saat ini. Antara lain kasus Bank Century, kasus Nazaruddin, kasus lumpur Lapindo dan lain-lain. Aksi yang semula akan dilaksanakan pada pukul 08.30 WIB, sempat molor hingga pukul 11.00. Pasalnya mereka masih menunggu kejelasan informasi tentang jam kedatangan Pak Dhe Karwo (sapaan akrab Sukarwo).

            Setelah melakukan orasi memutari bundaran UB, kemudian para peserta melanjutkan aksi dengan Long March menuju gedung Samantha Krida (tempat berlangsungnya semiloka). Sekitar pukul 12.30, barulah Pak Dhe Karwo tiba di tempat tanpa ditemani Hatta Rajasa dan langsung menemui para peserta aksi. Di sini beliau langsung disambut oleh sekitar 30 mahasiswa yang ikut dalam aksi ini.

            Setelah mendengar beberapa pertanyaan dari mahasiswa, pria berkumis tebal ini langsung angkat bicara mengenai satu isu yang bersinggungan langsung dengan wilayah tugasnya. “Lapindo itu tanggung jawab tiga pihak. Yang pertama Abu Rizal Bakrie selaku pemilik Lapindo, kemudian pemerintah dan 45 RT setempat”, pungkasnya. 

            Pria nomor satu di Jawa Timur ini juga menambahkan, masyarakat dihimbau untuk sabar menunggu keputusan dari dinas geologi guna menentukan tempat relokasi. Sejauh ini sudah 9 RT yang teratasi. Target selesainya masalah Lapindo masih tidak dapat diprediksi, karena semburannya juga tidak dapat diprediksi. Dia juga menerima surat dari mahasiswa yang ditujukan kepada presiden mengenai sembilan tuntutan di atas.
(Abdud Dimats A.)

Rabu, 05 Oktober 2011

Kisah Tim Cleaning Service FISIP UB

Terpaksa Utang untuk Beli Susu Anak

ISTIRAHAT: Pegawai cleaning service FISIP UB saat berkumpul di sebuah ruang
lantai dua Gedung FISIP
(Foto: Welga Febdi Risantino)
Tidak jauh dari hiruk pikuk mahasiswa, terdapat sebuah ruangan sempit dekat toilet lantai dua Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya berukuran sekitar 3x2 meter. Tujuh orang berseragam menyesaki ruangan itu.
           
Mereka sedang asik bermain kartu remi. Ada seseorang yang mengenakan penjepit kertas di telinganya. Menandakan sebelumnya ia kalah dalam permainan kartu itu. Mereka adalah pegawai cleaning service (CS) FISIP. Itu merupakan tempat berkumpulnya pegawai CS FISIP yang sekedar ingin melepaskan penat dan bercanda ria dengan rekan sekerjanya. Relaksasi ini hanya berlangsung sejenak. Karena tidak lama setelahnya seonggok sampah menunggu untuk dibersihkan CS.
           
Kerja keras mereka nyaris tak berhenti sepanjang hari. Sering mahasiswa-mahasiswa merendahkan pekerjaan seperti ini. Suatu ketika si CS menyapu lobby di gedung FISIP. Dengan tanpa rasa bersalah, sekumpulan mahasiswa asiknya membuang dan menginjak.puntung rokok yang telah dihisapnya.
           
CS di FISIP ini dibawah naungan perusahaan penyedia jasa CS, PT. Mitra Permata Management Clean. CS FISIP terdiri dari satu tim yang terdiri tujuh orang. Tiap orang bertanggung jawab atas satu lantai. Menyapu dan mengepel lantai, mengelap kaca, sampai membersihkan toilet mereka lakukan.
           
Kondisi ruangan sebelum dibersihkan pun tak menentu. Ada yang biasa saja, ada juga sampah-sampah bertebaran dimana-mana. Agus Suprapto, salah satu pegawai CS mengatakan sampah yang dibuang biasanya barang-barang tak wajar. “Ada tumpahan kopi dan jus, puntung rokok, bungkus makanan dan paling sering permen yang masih utuh jatuh ke lantai. Sampai lantainya nggak bisa dibersihkan,” ujar pria kelahiran 23 tahun ini.
           
Pegawai CS FISIP yang dipimpin Irul ini bekerja mulai jam enam pagi sampai jam empat sore. Tetapi kalau ada acara di Gedung FISIP, mereka berlembur sampai jam enam malam. “Saat ada acara itu kita biasanya dapat ceperan maupun jatah makan,” ungkap Agus.
           
Perlu diketahui, pegawai CS ini digaji 550 Ribu per bulan tanpa diberi jatah makan tiap hari. Bayaran itupun sering telat. Kondisi seperti ini membuat mereka bosan.
           
Tio, pegawai CS yang lain mengamini telatnya pembayaran gaji tersebut. “Saya kan punya istri dan satu anak, mas. Jadi sering telatnya gaji, saya sampai berutang ke teman-teman untuk membelikan susu anak saya,” keluh pria yang bertempat tinggal di Celaket, Malang ini.
           
Hal serupa diungkapkan pegawai CS lain Ahmad Madzkur. Pria yang hobi menggambar ini mengeluhkan gaji yang sering telat membuat ia bosan menjalani rutinitas.
           
Selain masalah gaji, tim CS ini sering dikambinghitamkan oleh mahasiswa. Ada suatu waktu barang milik mahasiswa ketinggalan di dalam kelas, lalu mahasiswa itu tak menemukan barangnya. Ia langsung menuduh CS yang mengambil dan menyembunyikan. Padahal CS tidak pernah melakukan hal itu. “Kalau kita menemukan barang mahasiswa, pasti kita kembalikan ke pemiliknya kok, tidak pernah kita ambil,” ujar Agus.
           
Meskipun memiliki masalah pelik, satu tim CS ini masih bisa tersenyum dan bercanda ria saat bertemu dengan teman-teman sekerjanya. “Teman-teman disini itu baik-baik. Kita bisa main remi bareng, bahkan liat bokep bareng,” tutur Tio lantas tertawa terbahak.
           
Pegawai CS pun memiliki harapan terkait semua permasalahan saat ini. “Mahasiswa setidaknya bisa jaga kebersihan. Kan kalau bersih, enaknya di mahasiswanya sendiri,” ujar Ahmad.
           
CS juga menginginkan mahasiswa jangan terus menyalahkan CS, apabila barangnya hilang di kelas. Selain itu pembayaran gaji jangan terlambat terus. Karena mereka punya keluarga yang harus dihidupi. (Welga Febdi Risantino)

Selasa, 04 Oktober 2011

Mahasiswa FISIP Kurang Sadar Kebersihan

BERSERAKAN: Puntung rokok yang dibuang sembarangan di Lantai 2 Gedung FISIP.  
(FOTO: Welga Febdi Risantino)

MALANG - Kesadaran mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) terhadap kebersihan kurang. Terlihat dari banyaknya sampah-sampah yang berserakan di ruang kuliah maupun lobby-lobby gedung. Padahal tiap pintu kelas sudah diberi kertas pengumuman tidak boleh membawa makan-minum di dalam kelas.

Hal tersebut dikeluhkan pegawai cleaning service (CS) FISIP. Salah satunya adalah Agus Suprapto. Ia menyesalkan mahasiswa tidak bisa menjaga kebersihan. “Ada tumpahan minum, puntung rokok, bungkus makanan dan yang paling sering permen yang masih utuh jatuh ke lantai. Sampai lantainya nggak bisa dibersihkan,” ujarnya ketika diwawancarai di ruang CS di lantai 2 Gedung FISIP, kemarin (3/10).

Selain itu, Agus mengatakan kalau sampah yang dibuang itu tidak wajar. Ada kopi tumpah, jus tumpah, dan cilok tumpah,” ungkapnya dengan nada kesal.

Agus juga mengatakan kalau kondisi kelas tiap habis kuliah tidak menentu. “Ada kelas waktu itu kursinya amburadul, ada yang biasa saja,” tuturnya.

Pria yang tinggal di daerah Gemitri ini mengatakan kalau dia dan temannya kewalahan menangani masalah kebersihan di dalam gedung. Alasannya karena mahasiswa FISIP bertambah dan pegawai CS di gedung FISIP hanya ada tujuh orang yang tiap lantai ditangani satu orang,” ungkap pria kelahiran Malang ini.

Agus berharap kedepannya mahasiswa bisa saling pengertian masalah kebersihan ini. “Jangan kayak anak TK (Taman Kanak-Kanak) lah, buang sampah sembarangan dan aneh-aneh” pungkasnya.
           
Hal yang dialami Agus juga disesalkan Fingky Ananta, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP. Fingky mengatakan kalau mahasiswa sini kurang menjaga kebersihan. “Anak-anak banyak yang meletakkan kursi seenaknya sendiri setelah kuliah. Sampah juga berserakan di kelas,” ujarnya.
           
Fingky menambahkan juga sering menemukan tembok-tembok yang banyak bekas sepatunya. “ada-ada saja itu anak-anak, membuat gedung FISIP ini kelihatan jelek,” tuturnya.

Kelakuan mahasiswa membuang sampah sembarangan tidak berlaku bagi Lidya Hardianti. Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP ini malah turut serta menjaga kebersihan gedung dan sadar akan arti kebersihan itu. “Memang saya sering membawa makan dan minum di kelas. Tapi sampahnya saya taruh tas dulu, buangnya nanti kalau menemukan tempatnya” ujar wanita asal Jakarta ini. (wel)

Senin, 03 Oktober 2011

Tua renta : sekuat tenaga kakek ini menarik tumpukan sampah di jalan, tiada yang memperhatikan.

Tampak samping : beristirahat sejenak kala membawa sampah yang segede 'gajah'
(Foto-foto : Durrotun Nafisah/Bagus Wimono)

Kakek tua yang mengangkut sampah ini berada di depan Jalan Letjen S. Parman III, seberang Toko Hartono Elektronik. Menurut penduduk sekitar kakek ini tiap harinya berlalu lalang di jalan tersebut, mulai dari pagi sebelum pukul 07.00 hingga siang terik menjelang Dhuhur.

Drama Korea vs Sinetron

Ilustrasi Drama Korea dan Sinetron (Sumber: naisa.student.umm.ac.id)
Industri hiburan Korea seperti film, drama dan musik berkembang berkat jasa pemerintah Korea Selatan yang mengekspor ke negara lain dengan harga sangat murah.
Indonesia pun dijadikan salah satu negara dari target ekspor mereka. Drama Korea yang pertama kali diputar di Indonesia adalah All About Eve, yang berkisah tentang dunia penyiaran pertelevisian. Film korea yang menghiasi pertelevisian Indonesia yaitu Endless Love, My Sassy Girl, Princess Hours, Full House, dan Boys Before Flowers sempat menarik perhatian penonton tanah air dalam beberapa tahun terakhir.
Safitri Saraswati, siswi dari STM Muhammadiyah 1 Malang menuturkan kalau drama Korea dari segi cerita dan penampilan lebih bagus. Didukung juga dengan jalan cerita yang lebih singkat “Drama Korea itu lebih menampilkan kebudayaannya,” ujar cewek manis berkerudung ini.
Cewek yang hobi baca buku ini mengenal drama Korea dari orang tuanya, dan tanggapannya positif. “Aku mengambil sisi positifnya saja” jelas cewek yang suka baca buku ini,” ujarnya.
Saat kami meminta tanggapan tentang sinetron di Indonesia saat ini, dia menjawab kalau sinetron di Indonesia itu panjang ceritanya. “Apalagi kalau sudah bertengkar itu berlebihan,” tutup penikmat makanan Team Lo Solo ini.
Iva Prastica Juliastuti siswi SMPN 5 Malang juga menyukai drama Korea. Dia menyukai drama Korea karena mengangkat sisi kehidupan dan ada lucu-lucunya di drama percintaannya. Selain itu karena faktor wajah artis-artisnya yang ganteng dan cantik.
Selain di TV, dia getol mengikuti perkembangan drama Korea via Internet. “Apalagi Kim Bum itu jadi idolaku, karena perannya yang bagus,” ujar cewek kelahiran Jayapura ini.
Drama Korea buat cewek yang suka baca novel ini memiliki kebiasaan buruk. “Gara-gara sering liat drama Korea di TV aku sampai menunda PR. Malahan karena melihat adegan percintaannya, kadang-kadang dia ingin menikmati rasanya pacaran” katanya.
Iva juga menyinggung masalah sinetron yang ada di Indonesia. “Sinetron di Indonesia itu mbulet, episodenya kepanjangan, dan buat orang geregetan,” tandas cewek yang bercita-cita jadi penulis ini.
Membicarakan sinetron di Indonesia, rumah produksi film semakin gencar menggarap format seperti itu. Berbagai stasiun TV swasta juga turut ambil bagian untuk menjadikan sinetron sebagai ladang bisnis mereka. Sebut saja RCTI, Indosiar, SCTV, ANTV Global TV, Trans TV saat prime time menayangkan sinetron-sinetron tersebut.
Contoh sinetron-sinetron yang ada di Indonesia contohnya Cinta Fitri, Para Pencari Tuhan, Dunia Tanpa Koma, Suami-Suami Takut Istri, Muslimah, Abdel dan Temon, dan lainnya. Sinetron di Indonesia dibuat sesuai dengan selera pasar, karena ini murni bisnis hiburan.
Mega Febri Rafikasari siswi SMPN 16 Malang merupakan cewek yang suka dengan sinetron. “Aku lebih mencintai produk dalam negeri, makanya aku memilih sinetron,” ujar anak satu-satunya di keluarganya ini.
Cewek ini juga menambahkan bahwa sinetron itu bisa buat bahan untuk berkomunikasi dan sebagai hiburan. Anda tau nggak, kalau sinetron di Indonesia itu juga sering kena tegur sama KPI (komisi yang mengawasi perfilman di Indonesia) karena materi siaran sinetron dinilai penuh adegan kekerasan verbal & fisik, tidak memperhatikan norma kesopanan & kesusilaan dan melanggar kaidah-kaidah agama, seperti perlakuan yang tidak pantas terhadap orang tua.
“Emang sih adegan dan budaya di sinetron tidak baik, tapi daripada drama korea yang ceritanya terlalu dewasa dan kadang ada adegan seronoknya,” tutup penggemar Justin Bieber ini seraya mengamini pernyataan KPI sekaligus membandingkan dengan drama Korea.
Maraknya Drama Korea dan Sinetron ditanggapi biasa saja oleh Asyfi Gandhes Putri Nugroho, siswi kelas sepuluh Brawijaya Smart School. Dia juga tidak begitu mengikuti perkembangan keduanya. “Sinetron itu kurang mendidik, ceritanya yang ditampilkan indah-indah aja, lebay gitu. Kalau drama Korea banyak cinta-cintanya, jadi malu liatnya” jelas cewek berkerudung sambil tertawa kecil setelah ditanyai ini.
Meski demikian, ia mengaku bahwa penilaian tayangan tersebut tergantung dari diri masing-masing yang menilai dari sisi positif atau negatifnya. “Pokoknya jangan sampai mengganggu fokus belajar siswa dan kegiatan lainnya,” pungkas cewek penyuka warna biru ini.

Tidak Suka Keduanya
Serial korea maupun sinetron indonesia umumnya sedang di gandrungi kaum remaja, namun tidak semua remaja menggemari keduanya. contohnya Sugeng Setiawan siswa SMKN 10 Malang. Cowok yang hobi makan bakso ini mengatakan tidak suka dengan serial-serial korea yang sedang marak maupun sinetron televisi yang makin menjamur itu.   Dia mengatakan bahwa hal-hal tersebut dapat meracuni pikiran kaum muda dan dapat membwa efek negatif, karena umunya yang dibahas dalam acara-acara tersebut tentang cinta yang kadang berlebihan dan tidak cocok dengan usia remaja.
Sugeng mengatakan adegan-adegan yang kurang seronok kebanyakan juga tidak luput menghiasi dalam setiap cerita-ceritanya. Selain itu perilaku-perilaku yang tidak pantas juga sering ditampilkan seperti cara berpakaian yang aneh-aneh, tata krama yang tidak sopan pada orang yang lebih tua, adegan kekerasan, dan banyak lagi.
”Kalo dari segi cerita aku gak suka karena ceritanya gak menarik, dan identik dengan cewek serta buang-buang waktu aja,” kata anak pertama dari tiga bersaudara ini.
Cowok yang aktif di organisasi DPA ini mengharapkan tayangan yang lebih berkulitas serta edukatif. ”Menurut aku sih, stasiun-stasiun televisi Indonesia itu harusnya lebih memperbanyak acara yang mengandung unsur kompetitif aja seperti ajang pencarian bakat gitu,supaya orang lebih terpacu untuk berkarya,” cetus remaja yang bercita-cita menjadi dokter ini.
Dan untuk serial-serial drama Korea serta sinetron Indonesia, ABG yang mengidolakan Darius Sinatria ini memberi masukan agar dalam acara-acara itu lebih menonjolkan  hal-hal yang mendidik dan ceritanya cocok untuk semua usia.
           Frisky Surya Kristanti siswi SMK Putra Indonesia ini menyatakan hal yang serupa. Gadis yang hobinya sms-an ini mengatakan kalau dia sama sekali tidak suka terhadap serial Korea maupun sinetron Indonesia. Cewek yang terkesan cuek ini lebih memilih menyaksikan acara musik serta relity show yang lebih inspiratif dibandingkan sinetron maupun drama korea yang menyita waktu karena ceritanya yang berseri.

Lebih Memproteksi Diri
Novarini Kusumawati, guru Sosiologi dari SMAN 2 Malang mengatakan setuju-setuju saja dengan maraknya drama Korea serta sinetron-sinetron Indonesia di televisi. “Namun semua itu ada dampak positif serta negatifnya,” tambah guru gaul ini.
Guru yang mempunyai hobi nonton drama Korea ini mengatakan kalau drama Korea itu ceritanya lebih variatif, serta cara berpakaianya sangat menarik buat anak-anak muda. “Tetapi dari segi negatifnya terkadang banyak adegan yang kurang senonoh yang muncul di serial -serial Korea itu,” ujarnya.
          Sedangkan untuk sinetron Indonesia, ibu dari satu anak ini memaparkan lebih banyak sisi negatifnya di banding sisi positifnya. ”Ceritanya itu terlalu monoton dan bollywood banget,” kata guru yang sangat dekat dengan murid-muridnya ini.
         Novarini menambahkan budaya-budaya asli Indonesia tidak tercermin di sinetron. Malah yang lebih menonjol adalah penanaman budaya yang buruk dan dapat menjadi contoh yang tidak baik bagi kaum remaja. Wanita yang hobi makan tempe ini berpesan kepada murid-muridnya agar lebih memproteksi diri sendiri dari budaya-budaya asing yang masuk. (Welga Febdi Risantino)

Sabtu, 01 Oktober 2011

Berkunjung dan Kuliner ke Depot Soto Ayam Lombok Malang

LAWAS: Tampak depan bangunan Depot Soto Ayam Lombok



MAKNYUS: Menu Makanan soto ayam

NUANSA MADURA: Pikulan Depot Soto Ayam Lombok yang diletakkan di dekat meja konsumen

PENERUS: Rukoyah (kanan), Penerus dan pemilik Depot Soto Ayam Lombok

(FOTO-FOTO: Welga Febdi Risantino)






















Saat ini di Malang banyak terdapat tempat kuliner dengan persaingan begitu ketat antara penjual satu dengan penjual lain dalam memenangkan konsumen. Dalam kondisi persaingan yang semakin ketat, tempat kuliner tidak hanya dituntut untuk dapat memberikan menu yang istimewa. Tetapi juga dituntut untuk mengetahui cara penyajian atau penawaran yang lebih baik kepada pasar sasaran secara efisien dan tepat, dibandingkan dengan apa yang disajikan dan ditawarkan oleh para pesaingnya.
Salah satunya adalah Depot Soto Ayam Lombok. Depot Soto Ayam Lombok terletak di Jalan Sulawesi Nomor 1 Malang (Ketetapan Dari Pemerintah Kota Malang, red). Tetapi depot ini juga terletak di sepanjang Jalan Lombok Malang. Depot ini memakai nama ‘Lombok’, karena tempat berjualannya di sepanjang Jalan Lombok juga.

Soto Ayam Lombok ini berdiri sejak 1955 oleh Agus Achmad Mustajab dan Maemunah. Mereka berdua asli dari Pulau Madura. Karena dahulu mereka orang yang secara ekonomi terbilang pas-pasan, mereka berdua merantau ke Malang untuk mengadu nasib. Di Malang, Mustajab memiliki orang tua yang memiliki rumah disini. “Bagi orang Madura, istilah merantau ke Pulau Jawa yaitu babat ke tanah Jawa” ujar Rukoyah, penerus Depot Soto Ayam Lombok di Jalan Sulawesi Malang.

Sejak Agus Achmad Mustajab meninggal 27 tahun yang lalu, usaha yang di Jalan Sulawesi ini diteruskan oleh anak ketiganya Rukoyah dan mendiang kakak Rukoyah, Muhammad Muchid Santoso. Sedangkan anak-anak Mustajab yang lain kedapatan cabang-cabangnya di enam lokasi berbeda (Jadi persis seperti jumlah anak-anaknya yang berjumlah 7, red). “Sekarang saya menambah satu cabang lagi di Lawang dan diurus oleh anak saya sendiri” ujar Rukoyah sembari melayani pelanggan yang membayar di kasir.

Depot ini buka setiap hari mulai jam enam pagi sampai jam satu malam. Depot Soto Ayam Lombok juga mempekerjakan 25 karyawannya.

Menu makanan di sini hanya Soto Ayam, dengan harga per porsi 12 ribu Rupiah. Bumbu-bumbu yang digunakan pun bercita rasa Jawa, seperti penggunaan kemiri dan perasan jeruk limau sebagai kondimen. Penyajiannya dimana nasinya langsung dicampur dengan soto, sesuai dengan selera Jawa yang selalu menyajikan nasi sebagai makanan pokok.

Serbuk koya yang juga ditemukan di lontong cap go meh adalah budaya kuliner Tionghoa peranakan. Serbuk ini dibuat dari santan kelapa yang dikeringkan. Berfungsi sebagai penyedap rasa dan penambah tekstur. Berbeda dengan Soto Ayam Lombok yang koyanya disini sudah ditakar dan tidak biasa ditakar sendiri.

Hidangannya ditambahi dengan kentang, kecambah, telur ayam, daging ayam kampung, dan kubis. Disediakan juga krupuk ikan, dan krupuk rambak (dari sapi). Minumannya ada air mineral, es teh, es jeruk, teh hangat, jeruk hangat, dan soft drink.

Resep-resep masakan dan juga isinya, yang menangani dari keluarga Bapak Mustajab sendiri, dengan pembantu sebagai pemasaknya. “Karyawan hanya menyajikan. Racikan setiap pesanan dipercayakan kepada Pak Parman yang telah puluhan tahun bekerja di sana” tutur Rukoyah.

Berdasarkan surat keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang (Dr. Subagyo Soetardjo, MS) nomor 445.51/1030/420.306/RM/V 2005 pada 28 April 2005, Depot Soto Ayam Lombok sudah tercatat oleh Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Malang laik Hygiene Sanitasi Rumah Makan dan Restoran dengan nomor register 50 / LS / VII / 005.

Strategi Soto Ayam Lombok
Soto Ayam Lombok merupakan depot yang konsumennya dari berbagai kalangan dan usia. Jadi promosinya pun tak perlu repot. “Setelah konsumen menikmati soto kami, mereka akan bicara dari mulut ke mulut ke orang lain untuk memberitahu nikmatnya soto Ayam Lombok ini” ujar Rukoyah.

Karakteristik orang Indonesia yang lebih suka dilayani dengan baik bak raja, membuat depot ini melayani konsumen dengan baik dan sopan. “Jadi selama ini tidak pernah ada protes dari konsumen atau pelanggan” ujarnya.

Terkait dengan strategi posisi pasar, Depot Soto Ayam Lombok dapat memposisikan dirinya sebagai depot dengan atmosfer zaman dahulu dengan tidak meninggalkan kesan kekeluargaan. Dari segi lain juga penempatan pikulan soto yang diletakkan di dalam satu ruangan dengan tempat konsumen makan. “Biar konsumen mengetahui betul bagaimana meracik soto ayam dengan berbagai bahan pelengkap yang ada” kata Rukoyah.

Rukoyah mengatakan kalau konsep ini diciptakan oleh pihak depot untuk ditanamkan ke benak konsumen, bahwa Depot Soto Ayam Lombok adalah depot dengan suasana nyaman seperti di rumah sendiri.

Penempatan tiap meja makan diisi oleh sekitar enam tempat duduk, mengesankan seperti berkumpul dengan keluarga di rumah dengan hidangan makanan soto ayam yang enak. Penyeragaman atribut tiap karyawan membuat benak konsumen seperti ‘serdadu’ yang siap untuk menjalankan tugasnya masing-masing demi kelancaran dan kepuasan konsumen.
Depot Soto Ayam Lombok ini memberikan konsep ke depan sebagai depot yang diurus oleh penerus keluarga besar Agus Achmad Mustajab. Karena keuntungan dari usaha ini diberikan kepada anak-cucunya. “Mereka semua diamanahkan untuk menjaga keberlangsungan usaha ini dengan tidak bekerjasama dengan orang lain agar tetap sukses dan menjadi depot yang melegenda” pungkasnya. (Welga Febdi Risantino)

Cabang-Cabang Soto Ayam Lombok
1
Tlogo Mas Dinoyo Nomor 50 (Telp. 552958)
2
Mondoroko (Telp. 451637)
3
Purwosari (Telp. 0343-611096)
4
Jalan Dukuh Kupang 119 Surabaya
5
Jalan Parang Tritis Nomor 1 Malang (0341-496027)
6
Jalan Raya Bay Pas Gempol
7
Cabang baru di Lawang (pemiliknya adalah anak dari Rukoyah).

Kamis, 29 September 2011

Revitalisasi Karakter Bangsa Sekarang!

Kelakuan remaja Indonesia saat ini: tawuran, lihat film porno,
internetan, dan Pacaran
(Karikatur: Ashief Mutammi
Pada pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, terdapat cita-cita Indonesia serta dasar negara Indonesia yaitu Pancasila. Selama ini, apakah cita-cita bangsa Indonesia terealisasi semua? Apakah nilai-nilai penting di balik Pancasila masih dipertahankan, terutama bagi pembentukan karakter generasi penerus bangsa sekarang?

Indonesia sebenarnya memiliki modal untuk menjadi bangsa yang maju. Pemerintah, rakyat, sumber daya alam dan sebagainya. Tapi modal yang sudah ada ini, tidak bisa dimanfaatkan Indonesia secara tepat.

Kita lihat saja. Indonesia sekarang masih belum berhasil meraih cita-citanya seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Malahan kita semakin menjauh dari cita-cita tersebut.

Mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada pasal 31 ayat 1 UUD 1945, setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan direalisasikan dengan mencanangkan program wajib belajar 12 tahun.

Kita lihat, makin lama biaya pendidikan makin mahal. Tidak ada bedanya menempuh pendidikan di sekolah negeri maupun swasta. Anak-anak yang orang tuanya tidak mempunyai biaya, terpaksa putus sekolah.

Padahal Pemerintah menganggarkan sebanyak 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pendidikan. Salah satunya Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dicanangkan untuk meringankan beban siswa terkait biaya pendidikan. Tapi belakangan siswa masih ditagih uang gedung dan uang seragam. Kenyataan lain, jumlah masyarakat yang buta huruf di lapangan tidak sama dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Sekarang kita lihat dari sisi Pancasila sendiri. Remaja sekarang kehilangan pegangan. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dipinggirkan. Banyak remaja yang lupa sila-sila pancasila. Kalaupun hafal, mereka belum tentu mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak perlu diperdebatkan lagi. Karena hampir tidak ada permasalahan tentang hal ini.

Sila kedua dan kelima hampir sama maknanya, Kemanusiaan yang adil dan beradab dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Apakah Indonesia sekarang sudah adil? George Towar Iqbal, Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Brawijaya (UB) ini menjawab tidak.

Pembangunan tidak merata. Pemerintah cenderung melakukan pembangunan di pusat kota. Sedangkan di desa-desa, mereka tidak begitu peduli.

Sedangkan Amir Hasan Ramli, Ketua Program Studi Psikologi UB ini mengatakan beradab dalam sila kedua tidak bisa dimaknai secara baik. Antar desa saja berkelahi, antar suporter berkelahi. “Yang diperebutkan itu apa sih?” tanyanya seraya mengetuk-ngetuk meja kerjanya.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Menurut Sri Mukti Rahayu, Kasubbag Peningkatan Kepemudaan, Olahraga, dan Organisasi Masyarakat (Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Jember) rasa persatuan semakin berkurang. Dibuktikan dengan memudarnya gotong royong antar masyarakat.

Semangat gotong royong yang memudar, karena trend masyarakat sekarang yang demokrasi. Ajaran demokrasi lebih mementingkan individu sendiri. Kemudian di daerah-daerah masih banyak oknum-oknum yang ingin menghancurkan daerah lain. Mereka memandang daerah lain lebih rendah dari daerahnya.

Sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Sila ini tidak berlaku. Karena di DPR sekarang masih mempertahankan sistem voting dalam pengambilan keputusan, bukan secara musyawarah.

Permasalahan-permasalahan tersebut akan berdampak pada bangsa Indonesia sendiri. Lambat laun budaya-budaya di Indonesia akan hilang. Contohnya gotong royong dan musyawarah.

Kalau sistemnya masih musyawarah, masyarakat yang memiliki suara kecil masih bisa berperan penting. Tapi kalau voting, suara terbanyak yang akan menang.

Dalam masalah politik, jika remaja sekarang disuguhi logika-logika politik dari barat, maka saat terjun ke masyarakat, mereka cenderung memakai logika tersebut dan meninggalkan logika politik yang dibangun dari bangsa sendiri.

Karakter Bangsa khususnya Remaja Saat Ini
Perlu diketahui, karakter bangsa Indonesia mulai memudar sejak transisi masa Orde Baru ke Reformasi. Latihan baris-berbaris untuk menanamkan kedisiplinan jarang diajarkan ke siswa-siswa.

Selain itu, tiap hari Senin, ada upacara dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera merah putih. Siswa jarang mengikuti secara khidmat proses tersebut. Padahal maksud melakukan hal seperti itu untuk membentuk karakter pribadi masing-masing.
               
Menurut George, karakter bangsa Indonesia khususnya remaja sekarang tidak ada yang bisa dibanggakan. Dari budaya saja, remaja Indonesia tidak bisa mempertahankan budayanya, malah terkena pengaruh budaya asing. Banyak yang mabuk-mabukan dan trek-trek’an. Hal seperti itu tidak sesuai dengan nilai moral dan agama.

Dari segi moral, masih banyak seks bebas di kalangan remaja. Remaja di Indonesia terlalu menelan mentah-mentah budaya asing. Mereka melakukan seks bebas dengan pasangannya masing-masing tanpa ikatan pernikahan, meskipun tidak gonta-ganti pasangan seperti budaya asing lainnya.

Pihak yang ‘berdosa’ atas masalah tersebut yaitu media. Karena media sering menampilkan budaya-budaya hedon dari bangsa lain.
               
Menurut Sri Mukti, rasa nasionalis dan gotong royong remaja sekarang makin berkurang. Kalau dahulu itu rasa kebersamaannya kuat sekali. “Karena rasa itu berkurang, akhirnya mereka berpikir secara individu” wanita asli Blitar, Jawa Timur ini.

Sudah saatnya bangsa Indonesia melakukan revitalisasi karakter bangsa khususnya remaja yang sudah ‘bobrok’ ini.

Revitalisasi karakter bangsa sebenarnya sudah lakukan sejak Indonesia berdiri. Tapi sampai sekarang kita belum punya karakter yang tepat. Padahal di negara-negara lain, pembangunan karakter sudah selesai.

Hal yang harus dilakukan pertama, dari lingkup terkecil yaitu keluarga. Setelah itu baru melebar ke masyarakat. Anak itu belajar dari meniru. Kalau keluarga bisa mengajarkan anak-anaknya berbagai hal yang baik, maka anak juga akan meniru kebiasaan baik orang tuanya. Begitu juga sebaliknya.

Selanjutnya pendidikan agama, seperti pembentukan iman seseorang. Menanamkan disiplin. dan pembentukan mental.

Menumbuhkan rasa nasionalisme. Contohnya gotong royong harus ditingkatkan lagi. Tapi sekarang sulit untuk mengembalikan semangat gotong royong. Karena sekarang trend-nya demokrasi. Kecuali kalau pemimpin negaranya tegas untuk menghimbau masyarakatnya. Peran negara itu penting dalam pembentukan karakter bangsa. Contohnya seperti kepemimpinan. (Welga Febdi Risantino)