Tampilkan postingan dengan label Post By Welga Febdi Risantino. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Post By Welga Febdi Risantino. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Desember 2011

Mau Kembalian Permen atau Uang Receh?


Suatu hari ada orang membeli makanan di minimarket X dan segera membayar ke kasir. Sembari menunggu, penjaga kasir bilang “Maaf, uang recehnya tidak ada. Kembalian saya kasih permen ya?” ujarnya. Pernahkah anda mengalami hal seperti itu? Ya, seringkali toko, minimarket, maupun swalayan memberikan kembalian kepada konsumen bukan berupa mata uang.
Padahal Bank Indonesia telah membuat ketentuan tentang alat pembayaran yang tercantum dalam Pasal 2 Ayat 3 UU No. 23 Tahun 1999 yaitu “setiap perbuatan yang menggunakan uang atau mempunyai tujuan pembayaran atau kewajiban yang harus dipenuhi dengan uang jika dilakukan di wilayah negara Republik Indonesia wajib menggunakan uang rupiah, kecuali apabila ditetapkan lain dengan Peraturan Bank Indonesia.”
Dalam pasal tersebut jelas bahwa pihak swalayan atau toko tidak boleh memberikan kembalian berupa permen dan lainnya, kecuali adanya kesepakatan antar keduanya (pihak toko atau swalayan dengan konsumen).
Ketentuan Pidana dan Sanksi Administratif pada Pasal 65 UU No. 23 yaitu “Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), diancam dengan pidana kurungan sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan dan paling lama 3 (tiga) bulan, serta denda sekurang-kurangnya Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah) dan paling banyak Rp. 6.000.000,00 (enam juta rupiah).”
Jadi kita berhak untuk menuntut toko atau swalayan yang tetap menggunakan praktik tersebut dan melaporkannya ke pihak berwenang. Adanya undang-undang ini diharapkan pihak toko atau swalayan lebih bijak dalam melayani konsumen dan konsumen tidak merasa kecewa dengan adanya praktik seperti itu. (wel)

Senin, 14 November 2011

Tim Bola Voli KORPRI Universitas Brawijaya


Tak Ada Regenerasi, Sempat Mati Suri
Pagi itu (14/11) matahari terik sekali memancarkan sinarnya. Menyengat dan membakar tubuh orang yang berjemur dibawahnya. Langit terlihat cerah dengan gumpalan awan yang tak pernah diam. Angin panas berhembus kecil menerpa dedaunan.

Lapangan voli sebelah selatan GOR Pertamina Universitas Brawijaya (UB) terlihat lebih ramai dari biasanya. Terlihat pula ‘bapak-bapak’ menggunakan kostum olahraga seragam berwarna biru tua kombinasi merah dengan nomor di dada dan di punggunya sedang asik memainkan bola voli dengan rekannya.

Ya, itu adalah satu tim bola voli KORPRI UB (Korps Pegawai Republik Indonesia). mereka akan bermain dalam partai eksebisi pembukaan Rektor Cup IX bertajuk Invitasi Bola Voli antar Fakultas se-UB. Mereka diundang panitia untuk menjadi tim pembuka melawan tim Unit Aktivitas Bola Voli (UABV) UB.

Dalam pertandingan itu, tim KORPRI UB mengakui keunggulan UABV. Mereka ditaklukkan tiga set langsung tanpa balas. (25-16, 26-24, dan 25-12). Meskipun mereka kalah, tetapi kegembiraan dan kepuasan masih terpancar pada wajah pemain KORPRI UB.

Tim Bola Voli KORPRI UB terbentuk sekitar tahun 1986-an. Tim ini terbentuk karena karyawan memiliki kesamaan hobi terhadap voli. Begitu pula dengan tim di cabang olahraga lain. Pemain voli KORPRI UB terdiri dari beberapa karyawan di lingkup UB. Ada yang berprofesi sebagai karyawan di bagian kemahasiswaan sampai satpam rektorat. Pemain dikumpulkan dari hasil pemantauan terhadap karyawan-karyawan di lingkup UB ”Ada yang memberitahu kepada saya, pemain-pemain yang memiliki dan minat bermain voli,” ujar Feri Subagyo (40), pelatih tim KORPRI UB.

Saat ini tim KORPRI UB hanya memiliki sepuluh pemain yang aktif. Usianya pun rata-rata lebih dari 30 tahun. Pemain pun tidak diganjar gaji, seperti layaknya tim voli lain. “Mereka hanya sukarela saja ikut tim ini,” ujar Subagyo.

Menurut Subagyo, Tim KORPRI UB melakukan latihan rutin tiap hari Kamis dan Sabtu di Lapangan Fakultas Ilmu Administrasi. Latihan pun banyak menemui kendala. Diantaranya sulit untuk mengumpulkan seluruh pemain.

Tetapi Yohannes (34), salah satu pemain KORPRI UB membantah latihannya diadakan secara rutin. “Latihan pun hanya dilaksanakan sekali setiap bulan,” ujar pemain yang berprofesi sebagai satpam rektorat UB. Pemain bernomor punggung 9 ini menambahkan kalau latihan timnya yang kurang, karena mereka memiliki kewajiban lain yaitu bekerja.

Meskipun jarang latihan, tim KORPRI UB ini sering mengikuti pertandingan dan menorehkan prestasi. “Diantaranya kompetisi bola voli antar klub se-Malang Raya di Tumpang tahun 2007. Kami juara dua,” ujar Joko Wiyono, pemain KORPRI UB yang juga karyawan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Pada bulan Juli 2011 lalu, tim KORPRI UB mampu masuk 8 besar Open Tournament Volly di Gunung Kawi, Malang. Selain itu, setiap ulang tahun KORPRI pun, mereka juga ikut berpartisipasi pada turnamennya.

Subagyo menjelaskan tim voli KORPRI UB sempat mati suri. Terbukti sejak awal terbentuknya sampai 2009, tim KORPRI tidak teroganisir secara baik. Baru pada awal 2010, mulai diaktifkan lagi.

Subagyo menginginkan kedepannya, tim voli KORPRI UB meningkatkan prestasinya. Pemainnya pun berharap adanya regenerasi di dalam tubuh tim. “Makin lama kita kan makin tua, fisik jelas makin melemah,” ungkap Sigit Hadi, karyawan Bagian Kemahasiswaan Fakultas Hukum ini. (Welga Febdi Risantino)

UABV Taklukkan KORPRI UB

MALANG - Unit Aktivitas Bola Voli (UABV) Universitas Brawijaya berhasil mengalahkan KORPRI UB (Korps Pegawai Republik Indonesia Universitas Brawijaya) dalam partai eksebisi Rektor Cup IX Invitasi Bola Voli tadi pagi (14/11) tiga set tanpa balas di Lapangan voli sebelah selatan GOR Pertamina UB.

Pemain UABV yang terdiri dari mahasiswa, melawan tim KORPRI UB yang berusia sekitar lebih 30 tahun sering melakukan perlawanan dengan mengandalkan smash-smash keras dan menukik. Tim ‘tua’ KORPRI belum bisa mengimbangi permainan UABV. Set pertama pun berakhir dengan kemenangan UABV 25-16. 

Set kedua, Tim KORPRI UB mulai menikmati permainan. Kedua tim saling kejar-mengejar angka. Sampai memaksa deuce pada saat perolehan poin imbang 24-24. Akhirnya set kedua dimenangkan UABV, 26-24. 

Pada set ketiga, fisik pemain KORPRI UB mulai melemah. Terik matahari yang menyengat membuat pemain yang sudah berumur ini kehabisan tenaga. Mereka menyerah 25-12. 

Feri Subagyo, pelatih tim KORPRI mengatakan permainan anak asuhnya sudah memuaskan. “Mereka bisa mengimbangi permainan cepat UABV. Hanya faktor fisik pemain yang sudah melemah pada set ketiga,” ujar Pegawai Bidang Olahraga Voli di KORPRI UB ini. 

Selasa pagi (15/11) Invitasi Bola Voli mempertandingkan 4 pertandingan. Pada jam pertama (7.00 WIB) di lapangan 1, tim putra Fakultas Peternakan akan berhadapan dengan Fakultas MIPA. Sementara di lapangan 2 tim putri Fakultas Ekonomi dan Bisnis berhadapan dengan Fakultas Pertanian. 

Untuk jam kedua (8.30 WIB) di lapangan 1, tim putra Fakultas Teknik berhadapan dengan Fakultas Pertanian. Sementara di lapangan 2, tim putri Fakultas Peternakan akan menjamu Vokasi. (wel)

Digelar, Kompetisi Bola Voli se-UB

MALANG - Pagi ini (14/11) Unit Aktivitas Bola Voli (UABV) Universitas Brawijaya (UB) mengadakan upacara pembukaan turnamen bola voli antar fakultas se-UB bertajuk Invitasi Bola Voli di lapangan voli sebelah selatan GOR Pertamina Universitas Brawijaya. Turnamen ini merupakan salah satu kegiatan Rektor Cup IX, ajang tahunan UB.

Kegiatan ini berlangsung sejak 14 November sampai 23 November dan diikuti 14 tim. Pertandingan pertama akan dimulai esok pagi (15/11) (selengkapnya lihat tabel,red). Pertandingan jam pertama, pukul 7.00 WIB, dan jam kedua pukul 8.30 WIB. Tiap fakultas mengirimkan tim putra dan tim putrinya dan memperebutkan juara I,II, dan III.

Invitasi Bola Voli menggunakan sistem gugur, artinya, tim yang kalah dalam satu pertandingan, langsung tersingkir. “Alasan kami menggunakan itu, agar kompetisi berjalan cepat. Menghindari hujan dan lampu penerang yang tak tersedia di lapangan juga,” ujar Mohammad Ubaidillah, ketua pelaksana Rektor Cup IX.

Ubai (panggilan akrab Mohammad Ubaidillah) mengatakan tujuan diselenggarakannya kompetisi ini yaitu untuk mempererat tali persaudaraan antar fakultas, menciptakan bibit atlet bola voli di UB, dan juga menciptakan turnamen yang bebas dari tindakan anarkis.

Acara ini dibuka oleh Haryo, Kepala Bagian Kemahasiswaan UB. Haryo mengharapkan acara ini berjalan lancar. “Tidak ada lagi ricuh antar suporter. Junjunglah semangat sportivitas. BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) tiap fakultas sudah membuat perjanjian untuk saling jaga sportivitas,” ujarnya.

Perlu diketahui, tim voli putra dan putri Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tak dapat mengikuti kompetisi ini. “Alasan mereka tidak ikut karena tak ada atlet yang dikirim. Jadi yang berkompetisi tinggal 13 peserta,” tutur Ubai.

Juara bola voli tahun lalu (Rektor Cup VIII) direbut oleh Fakultas Ekonomi setelah mengalahkan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Yan Mulyana, salah satu anggota UABV, tim voli dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Teknik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, dan Fakultas Peternakan diunggulkan jadi juara tahun ini.

Ubai yang juga mahasiswa Fakultas Peternakan 2009 mengatakan kalau wasit yang digunakan dalam kompetisi ini berasal dari alumnus-alumnus UABV dan wasit dari PBVSI (Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia). (wel)

JADWAL PERTANDINGAN REKTOR CUP IX 2011
Hari
Jam Ke-
Cowok
Cewek

Lapangan 1
Lapangan 2
Selasa,
15 November 2011
1
(b) FAPET v MIPA
(r) FEB v FP
2
(f) FT v FP
(v) FAPET v VOKASI
Rabu,
16 November 2011
1
(d) FIA v FK
(s) FTP v FK
2
(h) FTP v FAPERIK
 (x) MIPA v FIA
Kamis,
17 November 2011
1
(i) HUKUM v (b)
(u) FT v r
2
 (k) PKH v (f)

Jumat,
18 November 2011
1
(j) FEB v (d)
(w) s v FAPERIK
2
(l) VOKASI v (h)

SEMI FINAL
Senin,
21 November 2011
1
 (AA) i v j
(CC) u v v
2
(BB) k v l
(DD) w v x
PEREBUTAN JUARA III
Selasa, 22 November 2011
1
kalah (AA) v kalah (BB)
Kalah (CC) v kalah (CC)
FINAL
Rabu, 23 November 2011
2
menang (AA) v menang (BB)
Menang (CC) v Menang (DD)
Sumber : Panitia REKTOR CUP IX

Ket:
Jam ke-1 : 7.00 WIB
Jam ke-2 : 8.30 WIB

Rabu, 26 Oktober 2011

FIA Juarai Olimpiade Brawijaya 2011

 MALANG - Olimpiade Brawijaya 2011 berakhir. Kejuaraan antar Fakultas se-Universitas Brawijaya ini dimenangkan Fakultas Ilmu Administrasi dengan perolehan 13 emas, lalu disusul oleh Fakultas Teknik dengan perolehan 7 emas, dan podium tiga diamankan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan 6 emas (Selengkapnya lihat tabel, red).

Olimpiade Brawijaya 2011 yang berlangsung dalam kurun waktu dua minggu ini, diawali dengan pelepasan balon di Lapangan Rektorat pada tanggal 9 oktober lalu. Olimpiade Brawijaya pada tahun ini bertemakan Be the best talent, be the real champion, dengan jargon Langkah awal menuju sukses, sukses bersama yes, why not, the best.

Olimpiade Brawijaya 2011 mempertandingkan 14 kategori yaitu:
  • Futsal
  • Atletik (5km, estafet, 200 km)
  • Bela diri (kempo, karate, silat, taekwondo)
  • Catur
  • Bridge
  • Menyanyi (keroncong, akapela, pop)
  • Paduan Suara Mahasiswa
  • Basket
  • Voli
  • Tenis meja
  • Tenis lapang
  • Bulu tangkis
  • Fotografi
  • Debat english
Untuk tahun ini ada penambahan 3 cabang. “Di Kategori seni ada Acapela dan Fotografi. Di Kategori Atletik ada cabang bridge” ujar Rizal Akbari Nandi, wakil ketua pelaksana Olimpiade Brawijaya 2011. 

“Secara keseluruhan Olimpiade Brawijaya dapat dikatakan lancar, karena sesuai dengan yang direncanakan,”pungkasnya.

Rangkaian acara Olimpiade Brawijaya 2011 ditutup selasa (25/10) di Gedung Samantha Krida dengan penyerahan medali kepada seluruh pemenang. (fdc/wel)

Perolehan Medali Olimpiade Brawijaya 2011

PERINGKAT
FAKULTAS
EMAS
PERAK
PERUNGGU
TOTAL
1
Ilmu Administrasi
13
4
2
19
2
Teknik
7
10
11
28
3
Ekonomi dan Bisnis
6
6
7
19
4
Perikanan dan Ilmu Kelautan
6
3
2
11
5
Hukum
6
2
5
13
6
FISIP
5
8
4
17
7
MIPA
5
3
6
14
8
Ilmu Budaya
4
4
3
11
9
Pertanian
3
7
4
14
10
Kedokteran
3
4
6
13
11
Peternakan
1
4
4
9
12
Vokasi
1
1
3
5
13
Teknologi Pertanian
0
4
5
9
14
Program Kedokteran Hewan
0
1
1
2
Sumber: Devita Prinanda, Bagian Kesekretariatan Olimpiade Brawijaya 2011

Jumat, 14 Oktober 2011

Titip Absen Tiada Akhir

Ilustrasi Titip Absen (sumber: flickr.com)

Siang itu (29/9) di ruang F.7.3 salah satu gedung perkuliahan di Universitas Brawijaya (UB), seluruh mahasiswa yang mengikuti mata kuliah x tertunduk lesu. Seakan meratapi kesalahan yang telah mereka lakukan. Menandatangani absensi kehadiran mahasiswa lain yang diketahuinya tak hadir dalam perkuliahan. Mereka tak berani menatap mata dosennya. Dosen itu menegur mereka habis-habisan dan tak akan memaafkan mahasiswa yang dititipi absen dan yang menandatangani.

Ya, fenomena titip absen (TA) di kalangan mahasiswa bukan menjadi rahasia umum lagi. Hampir di tiap perkuliahan, ada saja mahasiswa yang menyempatkan diri menandatangani absensi temannya yang kebetulan hari itu tak masuk kuliah. Mahasiswa yang TA pun seperti tak merasa bersalah menyuruh temannya menandatangani absennya.

NU (19), mahasiswi UB angkatan 2010 ini tak memungkiri seringnya ia TA kepada temannya. “Sudah gak bisa dihitung, berapa kali aku TA. Malas itu masuk kuliah, mata kuliahnya banyak yang gak enak,” tandasnya.

Mahasiswi yang mengaku asli Magetan ini tak pernah menyesali perbuatannya. “Ngapain nyesel mas, sudah biasa aja,” pungkasnya.

DNS (19), memiliki alasan lain mengapa dirinya sampai TA. “Aku TA karena mengerjakan sesuatu yang lain, seperti tugas dan proyek di luar kampus. Aku juga lihat pentingnya mata kuliah dan dosennya. Bisa di TA atau tidak,” ujarnya.

Mahasiswa yang berpostur tinggi ini mengatakan kalau merasakan ketakutan saat TA, meskipun selama ini ia tidak pernah ketahuan. DNS mengenal TA sejak melihat fenomena mahasiswa lain yang banyak melakukan kebiasaan itu.

Selama kuliah, DNS sudah empat kali TA. Ia menyuruh teman yang dekat dengan dia untuk menandatangani absennya. Ia pun tak pernah memberi imbalan ke temannya. “Kalau aku melakukan prinsip proximity (kedekatan, red) dengan temanku,” kata pria yang menyukai film ini.

Meskipun DNS TA dengan alasan yang jelas, ia mengingatkan kalau kebiasaan TA itu berbahaya. “Karena nanti takutnya bisa keterusan sampai kerja,” pungkasnya.

FA (19) punya cerita berbeda. Dia mengaku baru pertama kali TA. Itupun ia terpaksa melakukan TA. “Ceritanya waktu itu saya ada kuliah jam tujuh pagi. Saya telat bangun. Saya buru-buru untuk berangkat ke kampus. Eh, sampai kampus sudah jam delapan. Ya sudah saya minta TA ke teman,” ungkap pria berparas cina ini.

Setelah pengalaman itu, ia menyadari kesalahannya melakukan TA. “Saya gak akan lakuin TA lagi, mas. Daripada absensi dibuat hal-hal yang tak berguna dan malah merugikan kita,” tutup pembicaraannya.

Selain merugikan, kasus TA juga diatur dalam Kode Etik Mahasiswa yang dikeluarkan Rektor UB. Kode Etik Mahasiswa mengatur standar perilaku mahasiswa dalam ruang kuliah dan/atau laboratorium. Dalam Pasal 5 ayat g, berbunyi Jujur, tidak menandatangani absensi kehadiran mahasiswa lain yang diketahuinya tidak hadir dalam perkuliahan.

Setiap pelanggaran terhadap Kode Etik itu akan mendapat sanksi dari pimpinan fakultas masing-masing. Bahkan rektor dapat mempertimbangkan pemberian sanksi yang lebih berat terhadap pelanggaran Kode Etik setelah memperoleh masukan dari para pihak yang mengetahui terjadinya pelanggaran Kode Etik.

Desi Dwi Prianti, Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UB, tidak menyukai mahasiswa yang TA. “Mereka berpikiran TA itu hanya untuk memenuhi prasyarat bisa ikut UTS dan UAS. Padahal ujian itu hanya untuk mengukur kemampuan mahasiswa selama ini,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya mahasiswa bisa tidak menyukai suatu mata kuliah. Akhirnya mahasiswa memilih TA daripada masuk kelas. Kalaupun masuk, mereka pasti tidur ataupun ngobrol di kelas. “Mahasiswa seperti itu mengganggu proses perkuliahan,” kata dosen lulusan Magister di negeri kincir angin ini.

Menurutnya, mahasiswa yang mengerti prioritas sebagai mahasiswa, ia akan datang kuliah. Kalau mereka tidak sadar akan peran mahasiswa yang sebenarnya, pasti akan TA dan tidak belajar.

Wanita asli Malang ini menjelaskan kalau TA memiliki beberapa resiko. “Mereka kan tidak tahu materi yang diajarkan dosen. Kecuali yang TA itu pinter dan mudah memahami materi. Meskipun ia tidak suka pembelajaran di kelas, no problem,” ujarnya.

Selain itu ia mengatakan, dosen bisa saja memberikan nilai E untuk mahasiswa yang ketahuan TA dan mahasiswa yang menandatangani absensi temannya. (Welga Febdi Risantino)