Senin, 03 Oktober 2011

Drama Korea vs Sinetron

Ilustrasi Drama Korea dan Sinetron (Sumber: naisa.student.umm.ac.id)
Industri hiburan Korea seperti film, drama dan musik berkembang berkat jasa pemerintah Korea Selatan yang mengekspor ke negara lain dengan harga sangat murah.
Indonesia pun dijadikan salah satu negara dari target ekspor mereka. Drama Korea yang pertama kali diputar di Indonesia adalah All About Eve, yang berkisah tentang dunia penyiaran pertelevisian. Film korea yang menghiasi pertelevisian Indonesia yaitu Endless Love, My Sassy Girl, Princess Hours, Full House, dan Boys Before Flowers sempat menarik perhatian penonton tanah air dalam beberapa tahun terakhir.
Safitri Saraswati, siswi dari STM Muhammadiyah 1 Malang menuturkan kalau drama Korea dari segi cerita dan penampilan lebih bagus. Didukung juga dengan jalan cerita yang lebih singkat “Drama Korea itu lebih menampilkan kebudayaannya,” ujar cewek manis berkerudung ini.
Cewek yang hobi baca buku ini mengenal drama Korea dari orang tuanya, dan tanggapannya positif. “Aku mengambil sisi positifnya saja” jelas cewek yang suka baca buku ini,” ujarnya.
Saat kami meminta tanggapan tentang sinetron di Indonesia saat ini, dia menjawab kalau sinetron di Indonesia itu panjang ceritanya. “Apalagi kalau sudah bertengkar itu berlebihan,” tutup penikmat makanan Team Lo Solo ini.
Iva Prastica Juliastuti siswi SMPN 5 Malang juga menyukai drama Korea. Dia menyukai drama Korea karena mengangkat sisi kehidupan dan ada lucu-lucunya di drama percintaannya. Selain itu karena faktor wajah artis-artisnya yang ganteng dan cantik.
Selain di TV, dia getol mengikuti perkembangan drama Korea via Internet. “Apalagi Kim Bum itu jadi idolaku, karena perannya yang bagus,” ujar cewek kelahiran Jayapura ini.
Drama Korea buat cewek yang suka baca novel ini memiliki kebiasaan buruk. “Gara-gara sering liat drama Korea di TV aku sampai menunda PR. Malahan karena melihat adegan percintaannya, kadang-kadang dia ingin menikmati rasanya pacaran” katanya.
Iva juga menyinggung masalah sinetron yang ada di Indonesia. “Sinetron di Indonesia itu mbulet, episodenya kepanjangan, dan buat orang geregetan,” tandas cewek yang bercita-cita jadi penulis ini.
Membicarakan sinetron di Indonesia, rumah produksi film semakin gencar menggarap format seperti itu. Berbagai stasiun TV swasta juga turut ambil bagian untuk menjadikan sinetron sebagai ladang bisnis mereka. Sebut saja RCTI, Indosiar, SCTV, ANTV Global TV, Trans TV saat prime time menayangkan sinetron-sinetron tersebut.
Contoh sinetron-sinetron yang ada di Indonesia contohnya Cinta Fitri, Para Pencari Tuhan, Dunia Tanpa Koma, Suami-Suami Takut Istri, Muslimah, Abdel dan Temon, dan lainnya. Sinetron di Indonesia dibuat sesuai dengan selera pasar, karena ini murni bisnis hiburan.
Mega Febri Rafikasari siswi SMPN 16 Malang merupakan cewek yang suka dengan sinetron. “Aku lebih mencintai produk dalam negeri, makanya aku memilih sinetron,” ujar anak satu-satunya di keluarganya ini.
Cewek ini juga menambahkan bahwa sinetron itu bisa buat bahan untuk berkomunikasi dan sebagai hiburan. Anda tau nggak, kalau sinetron di Indonesia itu juga sering kena tegur sama KPI (komisi yang mengawasi perfilman di Indonesia) karena materi siaran sinetron dinilai penuh adegan kekerasan verbal & fisik, tidak memperhatikan norma kesopanan & kesusilaan dan melanggar kaidah-kaidah agama, seperti perlakuan yang tidak pantas terhadap orang tua.
“Emang sih adegan dan budaya di sinetron tidak baik, tapi daripada drama korea yang ceritanya terlalu dewasa dan kadang ada adegan seronoknya,” tutup penggemar Justin Bieber ini seraya mengamini pernyataan KPI sekaligus membandingkan dengan drama Korea.
Maraknya Drama Korea dan Sinetron ditanggapi biasa saja oleh Asyfi Gandhes Putri Nugroho, siswi kelas sepuluh Brawijaya Smart School. Dia juga tidak begitu mengikuti perkembangan keduanya. “Sinetron itu kurang mendidik, ceritanya yang ditampilkan indah-indah aja, lebay gitu. Kalau drama Korea banyak cinta-cintanya, jadi malu liatnya” jelas cewek berkerudung sambil tertawa kecil setelah ditanyai ini.
Meski demikian, ia mengaku bahwa penilaian tayangan tersebut tergantung dari diri masing-masing yang menilai dari sisi positif atau negatifnya. “Pokoknya jangan sampai mengganggu fokus belajar siswa dan kegiatan lainnya,” pungkas cewek penyuka warna biru ini.

Tidak Suka Keduanya
Serial korea maupun sinetron indonesia umumnya sedang di gandrungi kaum remaja, namun tidak semua remaja menggemari keduanya. contohnya Sugeng Setiawan siswa SMKN 10 Malang. Cowok yang hobi makan bakso ini mengatakan tidak suka dengan serial-serial korea yang sedang marak maupun sinetron televisi yang makin menjamur itu.   Dia mengatakan bahwa hal-hal tersebut dapat meracuni pikiran kaum muda dan dapat membwa efek negatif, karena umunya yang dibahas dalam acara-acara tersebut tentang cinta yang kadang berlebihan dan tidak cocok dengan usia remaja.
Sugeng mengatakan adegan-adegan yang kurang seronok kebanyakan juga tidak luput menghiasi dalam setiap cerita-ceritanya. Selain itu perilaku-perilaku yang tidak pantas juga sering ditampilkan seperti cara berpakaian yang aneh-aneh, tata krama yang tidak sopan pada orang yang lebih tua, adegan kekerasan, dan banyak lagi.
”Kalo dari segi cerita aku gak suka karena ceritanya gak menarik, dan identik dengan cewek serta buang-buang waktu aja,” kata anak pertama dari tiga bersaudara ini.
Cowok yang aktif di organisasi DPA ini mengharapkan tayangan yang lebih berkulitas serta edukatif. ”Menurut aku sih, stasiun-stasiun televisi Indonesia itu harusnya lebih memperbanyak acara yang mengandung unsur kompetitif aja seperti ajang pencarian bakat gitu,supaya orang lebih terpacu untuk berkarya,” cetus remaja yang bercita-cita menjadi dokter ini.
Dan untuk serial-serial drama Korea serta sinetron Indonesia, ABG yang mengidolakan Darius Sinatria ini memberi masukan agar dalam acara-acara itu lebih menonjolkan  hal-hal yang mendidik dan ceritanya cocok untuk semua usia.
           Frisky Surya Kristanti siswi SMK Putra Indonesia ini menyatakan hal yang serupa. Gadis yang hobinya sms-an ini mengatakan kalau dia sama sekali tidak suka terhadap serial Korea maupun sinetron Indonesia. Cewek yang terkesan cuek ini lebih memilih menyaksikan acara musik serta relity show yang lebih inspiratif dibandingkan sinetron maupun drama korea yang menyita waktu karena ceritanya yang berseri.

Lebih Memproteksi Diri
Novarini Kusumawati, guru Sosiologi dari SMAN 2 Malang mengatakan setuju-setuju saja dengan maraknya drama Korea serta sinetron-sinetron Indonesia di televisi. “Namun semua itu ada dampak positif serta negatifnya,” tambah guru gaul ini.
Guru yang mempunyai hobi nonton drama Korea ini mengatakan kalau drama Korea itu ceritanya lebih variatif, serta cara berpakaianya sangat menarik buat anak-anak muda. “Tetapi dari segi negatifnya terkadang banyak adegan yang kurang senonoh yang muncul di serial -serial Korea itu,” ujarnya.
          Sedangkan untuk sinetron Indonesia, ibu dari satu anak ini memaparkan lebih banyak sisi negatifnya di banding sisi positifnya. ”Ceritanya itu terlalu monoton dan bollywood banget,” kata guru yang sangat dekat dengan murid-muridnya ini.
         Novarini menambahkan budaya-budaya asli Indonesia tidak tercermin di sinetron. Malah yang lebih menonjol adalah penanaman budaya yang buruk dan dapat menjadi contoh yang tidak baik bagi kaum remaja. Wanita yang hobi makan tempe ini berpesan kepada murid-muridnya agar lebih memproteksi diri sendiri dari budaya-budaya asing yang masuk. (Welga Febdi Risantino)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar