Kamis, 13 Oktober 2011

Serimpi Datang, si Ekor Panjang Menghilang


Ilustrasi: Petani di area persawah
Ada-ada saja, inilah yang dilakukan oleh beberapa petani di Tulungagung. Hasil eksperimen mereka di mana menggunakan Minyak Serimpi, yaitu minyak wangi yang biasanya digunakan untuk mayat tergolong sukses. Pasalnya dengan minyak tersebut para petani ini berhasil menyelamatkan padi mereka dari serangan hama tikus.

Ny Mulyati (60), petani Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, telah membuktikan khasiat minyak Serimpi. Semula berbagai cara mengusir tikus, mulai dari memasang perangkap, memberi umpan beracun, hingga memagari tanaman dengan plastik, telah dicobanya. Namun hasilnya masih dirasa kurang optimal.

Beliau mengaku setelah mendengar kabar dari mulut ke mulut bahwa minyak Serimpi bisa dipakai mengusir tikus. Maka, tanpa pikir lama, beliau pun langsung mempraktikkannya.

Beliau juga menjelaskan bahwa untuk setiap sawah seluas 250 are atau 3.500 meter persegi, dibutuhkan 10 botol minyak Serimpi ukuran 14,5 ml dan satu sachet softener (pelembut pewangi pakaian) ukuran 800 ml. Minyak berbau harum menyengat plus softerner ini kemudian dilarutkan ke dalam air. Satu botol minyak Serimpi untuk 2 tangki alat penyemprot.

Koordinator Penanganan Organisme Pengganggu Tanaman Disperta Tulungagung, Sugeng, yang dlansir dari sebuah sumber menyatakan, tikus adalah hewan pengerat yang cerdas. Biasanya, tikus akan takut dan curiga pada sesuatu yang baru, termasuk minyak Serimpi. Namun, pada rentang waktu tertentu, tikus akan mulai belajar dan membiasakan diri. Jika hal itu terjadi, maka tikus tidak lagi takut wewangian dan kembali menyerang.

Cara paling efektif membasmi hama tikus, kata Sugeng, adalah dengan membasmi secara fisik. Seperti perburuan induk dan anaknya, atau dengan cara pengasapan dengan gas belerang. Dengan membunuh induk hingga anak-anaknya, proses regenerasi tikus akan terputus.

Menurut Kojin (35), petani yang juga pemilik toko pertanian di Dusun Miren, Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu, selain minyak Serimpi, ada pula petani yang menggunakan rendaman umbi gadung yang dirajang tipis. Air rendaman disemprotkan ke batang tanaman padi. Aroma menyengat rendaman gadung diyakini tidak disukai tikus, apalagi cairan itu juga beracun. Namun, lanjutnya, cara ini kurang praktis. Sebab, proses merajang dan merendam membutuhkan waktu dan tenaga. Belum lagi umbi gadung saat ini cukup sulit didapat.

Ditambahkan Sugeng, selama 2011, serangan tikus di Tulungagung lebih hebat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini karena cuaca pada 2010 nyaris tanpa musim panas. Lingkungan lembap dan basah memicu tikus untuk terus berkembang biak. Kondisi ini didukung dengan melimpahnya air yang membuat petani terus menanam padi sepanjang tahun. Akibatnya siklus reproduksi tikus tidak pernah terputus.

Masih menurut Sugeng, dari sekitar 50.000 hektare tanaman padi di Tulungagung, sebanyak 160 hektare di antaranya sudah diserang tikus dan 12 hektare lainnya puso alias gagal panen.
Namun, papar Sugeng, serangan tikus belum melumpuhkan produksi padi di kota marmer, karena areal yang terserang tersebar di 15 (dari 19) kecamatan. Setiap hektare tanaman padi, rata-rata menghasilkan 6,1 ton gabah. Sehingga secara tahun ini Tulungagung masih bisa menghasilkan sekitar 304.024 ton gabah. (Yeyen Ferianto)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar