Rabu, 05 Oktober 2011

Kisah Tim Cleaning Service FISIP UB

Terpaksa Utang untuk Beli Susu Anak

ISTIRAHAT: Pegawai cleaning service FISIP UB saat berkumpul di sebuah ruang
lantai dua Gedung FISIP
(Foto: Welga Febdi Risantino)
Tidak jauh dari hiruk pikuk mahasiswa, terdapat sebuah ruangan sempit dekat toilet lantai dua Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya berukuran sekitar 3x2 meter. Tujuh orang berseragam menyesaki ruangan itu.
           
Mereka sedang asik bermain kartu remi. Ada seseorang yang mengenakan penjepit kertas di telinganya. Menandakan sebelumnya ia kalah dalam permainan kartu itu. Mereka adalah pegawai cleaning service (CS) FISIP. Itu merupakan tempat berkumpulnya pegawai CS FISIP yang sekedar ingin melepaskan penat dan bercanda ria dengan rekan sekerjanya. Relaksasi ini hanya berlangsung sejenak. Karena tidak lama setelahnya seonggok sampah menunggu untuk dibersihkan CS.
           
Kerja keras mereka nyaris tak berhenti sepanjang hari. Sering mahasiswa-mahasiswa merendahkan pekerjaan seperti ini. Suatu ketika si CS menyapu lobby di gedung FISIP. Dengan tanpa rasa bersalah, sekumpulan mahasiswa asiknya membuang dan menginjak.puntung rokok yang telah dihisapnya.
           
CS di FISIP ini dibawah naungan perusahaan penyedia jasa CS, PT. Mitra Permata Management Clean. CS FISIP terdiri dari satu tim yang terdiri tujuh orang. Tiap orang bertanggung jawab atas satu lantai. Menyapu dan mengepel lantai, mengelap kaca, sampai membersihkan toilet mereka lakukan.
           
Kondisi ruangan sebelum dibersihkan pun tak menentu. Ada yang biasa saja, ada juga sampah-sampah bertebaran dimana-mana. Agus Suprapto, salah satu pegawai CS mengatakan sampah yang dibuang biasanya barang-barang tak wajar. “Ada tumpahan kopi dan jus, puntung rokok, bungkus makanan dan paling sering permen yang masih utuh jatuh ke lantai. Sampai lantainya nggak bisa dibersihkan,” ujar pria kelahiran 23 tahun ini.
           
Pegawai CS FISIP yang dipimpin Irul ini bekerja mulai jam enam pagi sampai jam empat sore. Tetapi kalau ada acara di Gedung FISIP, mereka berlembur sampai jam enam malam. “Saat ada acara itu kita biasanya dapat ceperan maupun jatah makan,” ungkap Agus.
           
Perlu diketahui, pegawai CS ini digaji 550 Ribu per bulan tanpa diberi jatah makan tiap hari. Bayaran itupun sering telat. Kondisi seperti ini membuat mereka bosan.
           
Tio, pegawai CS yang lain mengamini telatnya pembayaran gaji tersebut. “Saya kan punya istri dan satu anak, mas. Jadi sering telatnya gaji, saya sampai berutang ke teman-teman untuk membelikan susu anak saya,” keluh pria yang bertempat tinggal di Celaket, Malang ini.
           
Hal serupa diungkapkan pegawai CS lain Ahmad Madzkur. Pria yang hobi menggambar ini mengeluhkan gaji yang sering telat membuat ia bosan menjalani rutinitas.
           
Selain masalah gaji, tim CS ini sering dikambinghitamkan oleh mahasiswa. Ada suatu waktu barang milik mahasiswa ketinggalan di dalam kelas, lalu mahasiswa itu tak menemukan barangnya. Ia langsung menuduh CS yang mengambil dan menyembunyikan. Padahal CS tidak pernah melakukan hal itu. “Kalau kita menemukan barang mahasiswa, pasti kita kembalikan ke pemiliknya kok, tidak pernah kita ambil,” ujar Agus.
           
Meskipun memiliki masalah pelik, satu tim CS ini masih bisa tersenyum dan bercanda ria saat bertemu dengan teman-teman sekerjanya. “Teman-teman disini itu baik-baik. Kita bisa main remi bareng, bahkan liat bokep bareng,” tutur Tio lantas tertawa terbahak.
           
Pegawai CS pun memiliki harapan terkait semua permasalahan saat ini. “Mahasiswa setidaknya bisa jaga kebersihan. Kan kalau bersih, enaknya di mahasiswanya sendiri,” ujar Ahmad.
           
CS juga menginginkan mahasiswa jangan terus menyalahkan CS, apabila barangnya hilang di kelas. Selain itu pembayaran gaji jangan terlambat terus. Karena mereka punya keluarga yang harus dihidupi. (Welga Febdi Risantino)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar