Kamis, 27 Oktober 2011

Sampahlah Kehidupan Kami

Kotor, bau, dan kumuh mungkin merupakan kesan pertama yang kita temui bila kita berkunjung ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Itu semua di akibatkan menggunungnya sampah yang ada . Namun begitu bagi sebagian orang tumpukan sampah yang kotor justru menjadi sumber kehidupan. Seperti bagi Sulastri (56) tahun warga dusun Suling Mangunsuman Siman yang berprofesi sebagai pengais sampah di TPA Mrican Jenangan. Menggantungkan perekonimian dari sampah-sampah lah yang menjadi pilihan wanita ini.
 
Pekerjaan yang sudah dijalaninya sejak 15 tahun yang lalu ini lah, yang menjadi pilihannya. Karena idak ada keahlian lain ibu dari 5 orang anak ini terpaksa mengais rejeki dari tumpukan sampah yang ada di TPA Mrican.

Berangkat pagi sekali Sulastri di temani sang suami Ramijo (61) memulai aktifitas mengais sampah. Satu persatu sampah organik dan non organik seperti plastik dan bekas botol minuman dipungutinya. Dengan bermodalkan sebilah besi yang digunakan untuk memungut sampah dan sebuah karung sebagai wadahnya. Asap akibat pembakaran sampah yang sangat pekatpun tak dihiraukannya. “ niku sampun biasa “ tutur wanita 56 tahun ini.

Setelah karung yang dipanggulnya sudah terasa penuh akhirnya si ibu ini bergegas menuju gubug kecil nya. Gubug kecil ini berfungsi sebagai tempat mensortir atau memilih sampah. Dengan atap terbuat dari kain kain bekas Sulastripun memilihi sampah yang didapatnya dengan tangan kosong seperti tidak mengenal jijik sama sekali. Sesekali aroma busuk yang sangat menyengat membuatnya tersedak dan batuk.

Sungguh ironis bila kerja keras setiap harinya ternyata  tidak sebanding dengan pendapatan yang di perolehnya. Ternyata dari semua sampah yang diperolehnya setiap hari tidak langsung laku terjual, namun masih menunggu 1 bahkan 2 bulan baru bias laku terbeli. Para pembeli biasanya adalah juragan barang bekas setempat yang dating langsung ke rumah untuk membelinya. Untuk 1 Kg plastic hanya dihargai Rp. 500,00 saja, begitu pula botol minuman juga dihargai Rp. 500,00 per kilogramnya. Jadi setiap kali transaksi Sulastri bias memperoleh uang Rp. 200.000 saja dan itupun tidak rutin kalau tidak 1 bulan sekali kadang 2 bulan sekali.

Sungguh tidak sepadan dengan kerja keras dan keringat yang sudah keluar. Namun ibu ini mencoba ikhlas. “ nggih namung ikhlas mawon “ tutur ibu ini disela kegiatan memilihi sampahnya sambil sesekali melontarkan senyum kecilnya di bawah terik matahari.

Dan di TPA Mrican ternyata masih banyak orang-orang yang berprofesi seperti Sulastri, terhitung mencapai 40 sampai 50 orang,dan rata –rata merupakan warga setempat.  

Terus bagaimana dengan kesehatan mereka, mungkin itu yang menjadi pertanyaan sekarang. Bila dilihat sepintas dengan suasana dan ekosistem seperti itu jelas jauh dari kata bersih dan sehat. Bibit penyakit dan bakteri berkumpul dan bersarang di gundukan sampah tersebut. “ nggih umpami sakit nggih namung pilek kalihan watuk”, tuturnya lagi. Dan itu sudah dianggap sangat biasa bagi mereka. 

Memeriksa kesehatan ke dokter atau puskesmas setempat mungkin menjadi momen yang sangat langka bagi mereka, karena mereka enggan untuk mengeluarkan uang untuk itu. Dan kesehatan dianggap sangat mahal bagi mereka.

Dan sampai sekarang belum ada niat baik dari pemerintah untuk membantu terkait dengan kesehatan mereka. Padahal mereka sangat mengharapkan itu bias mereka rasakan. Padahal mereka juga masih warga Ponorogo yang juga membutuhkan perhatian dari pemerintah daerah setempat.

Mungkin semangat lah menjadi bahan bakar utama mereka untuk tetap ikhlas beraktifitas. Ada keluarga juga dirumah yang menjadi semangat mereka juga. Melihat anak- anak mereka tumbuh dan bias mengenyam bangku sekolah saja sudah sangat cukup dan menjadi cita- cita yang paling tinggi bagi mereka. Mereka tidak mau untuk hanya bermimpi menjadi orang yang cukup, mereka memilih untuk tetap tersadar dan hidup di kenyataan yang sulit bagi mereka. Namun kesabaran dan keikhlasan lah yang membuat mereka tetap bertahan sampai sekarang. (Mita Pratiwi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar